kaleidoskop okezone.com

getting time ...

KALEIDESKOP

Kaleidoskop 2011

Kecelakaan Pesawat, Takdir atau Kesalahan?

Amril Amarullah - Okezone
Kamis, 29 Desember 2011 20:59 wib
Ilustrasi
Ilustrasi

Kecelakaan pesawat di Tanah Air seakan tak ada habisnya. Hampir setiap tahun kecelakaan melanda maskapai penerbangan kita.

Masih hangat diingatan, kecelakaan pesawat Adam Air yang jatuh di Selat Makassar, 2007 silam. Semua penumpang 102 dan awak pesawat tewas. Tragisnya, jasad seluruh penumpang dan bangkai pesawat terkubur di dasar laut, di kedalaman 2000 meter.

Baru-baru ini, pesawat penumpang jenis Casa 212-200 milik maskapai Nusantara Buana Air (NBA) menghantam perbukitan Taman Nasional Gunung Leuser, Bahorok, Langkat. Seluruh penumpang dan awak pesawat dinyatakan tewas di tempat. Kejadiannya 29 September 2011 lalu.

Belum kering air mata keluarga korban Casa 212-200, Indonesia sudah di timpa jatuhnya pesawat milik Associated Mission Aviation (AMA) yang jatuh di landasan perintis di Distrik Okbibab, Kabupaten Pegunungan Bintang, Papua, Sabtu 17 Desember 2011. 

Seorang pilot bernama Arnold tewas, sementara empat penumpang lainnya menderita luka. Selang dua hari, pesawat kembali celaka. Cessna jenis PK-WTC mengalami kecelakaaan sekira pukul 13.30 WIB di Cirebon, Senin 19 Desember 2011.
Rentetan kecelakaan pesawat lainnya, sejak Mei hingga Desember 2011, tercatat delapan insiden. Belum termasuk kecelakaan yang melibatkan pesawat latih.

Tahun 2010, Komisi Nasional Keselamatan Transportasi mencatat ada 54 kasus kecelakaan pesawat di Indonesia. Itu bukan jumlah kecil, apalagi dibanding kecelakaan selama lima tahun ke belakang 2002-2007, tercatat 143 kali kecelakaan.

Semakin jelas, satu tahun terakhir reputasi maskapai penerbangan nasional semakin buruk. Apa sebabnya, sejumlah pihak menyebut, insiden kecelakaan pesawat yang terjadi di Tanah Air, karena faktor cuaca dan kondisi alam yang ekstrem.

Hal itu memang sulit dihindari. Namun, tidak selamanya alam dijadikan kambing hitam dari buruknya sistem transportasi massal ini.

Guru besar transportasi Institut Teknologi Bandung (ITB) Ofyar Z Tamin menilai, kecelakaan transportasi yang kerap terjadi akhir-akhir ini akibat kombinasi berbagai faktor, antara lain faktor sumber daya manusia, sarana, dan prasarana transportasi.

Dia menyayangkan sikap pemerintah yang terlalu mudah menyalahkan faktor alam, terutama untuk kecelakaan pesawat terbang. “Faktor-faktor itu harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Perhubungan,” tegas Ofyar seperti dikutip dari harian Seputar Indonesia.

Kemana Pemerintah

Berdasarkan undang-undang, pemerintah memiliki peran sebagai regulator yang bertugas melakukan pembinaan terhadap operator dan penyelenggaraan transportasi massal.

Sertifikasi kelaikan udara sampai saat ini belum ada ketentuannya. Belum lagi peran pemerintah dalam mengawasi operator transportasi masih minim.

Menurut Guru besar transportasi Universitas Gadjah Mada (UGM) Danang Parikesit, pemerintah pusat seharusnya memberikan perhatian serius terhadap kompetensi operator.

"Siapa pun menterinya, harus bertanggung jawab dengan masalah keselamatan transportasi. Pemerintah seharusnya secepatnya melakukan reformasi tuntas dari segi keselamatan," kata Ketua Umum Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) itu.

Upaya nyata untuk meminimalisir faktor utama terjadinya kecelakaan, dengan memodernisasi teknologi. Menurut Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Bencana Alam dan Sosial Andi Arief itu, bukan hanya meminimalisir alam, tapi teknologi navigasinya harus tetap dimodernkan, agar tidak terjadi kesalahan assesment.

"Misalnya antara awan dan gunung kalau teknologi radarnya enggak canggih bisa menimbulkan kecelakaan pesawat," kata Andi Arief kepada okezone.

Kelaiakan Pilot

Hal penting yang terkadang diabaikan oleh maskapai yakni menyangkut jam terbang pilot. Sang pilot bisa menilai apakah pesawat itu laiak terbang atau tidak, baik bruk, baru atau pesawat bekas. Apa jenis pesawatnya juga harus dipahami sang pilot.

Karena itu, untuk memberikan rasa aman dan nyaman pengguna jasa penerbangan, pilot harus sering berlatih di simulator. Ketersediaan sebuah simulator pesawat udara diharapkan dapat mendukung operasional penerbangan sebuah maskapai, terutama untuk melaksanakan pengembangan kualitas SDM.

"Flight simulator akan membantu kebutuhan pilot sesuai rencana dengan peralatan training yang terbaik dengan metode pelatihan yang mengedepankan aspek keamanan dan keselamatan penerbangan sebagai prioritas dalam pengoperasian pesawat udara," kata Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono di kutip dephub.go.id, Jumat lalu.
(ahm)